Rabu, 08 Feb 2023
  • Selamat Datang di Official Website PESANTREN NURUL IHSAN Cilacap Berakreditasi A - The Next Generations © 2020 - All Rights Reserved.

Urip Iku Urup

Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA

Pepatah jawa di atas merupakan salah satu mutiara nasehat yang sudah semakin pudar penerapannya di zaman ini. Hampir di saat egoisme semakin menggurita dan memenangkan kehidupan manusia.

Urip iku urup  jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya  hidup itu semestinya membuat nyala . Nyala di sini diartikan positif. Bila api diibaratkan, maka api tersebut menerangi. Memberi Manfaat bagi sekitarnya .

Manusia adalah makhluk sosial yang saling terkait satu sama lain. Menjalin komunikasi dengan yang lain. Manusia tidak bisa mengisolasi diri sendiri, meski memiliki materi yang berlebihan. Itulah mengapa hidup itu harus diaktifkan. Saling tolong-menolong adalah suatu kepastian. Itu sebabnya manusia membutuhkan manusia.

Rasulullah  shallallahu’alaihiwasallam  menjelaskan,

“خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ“.

“Sebaik-manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain ”. SDM. Ath-Thabarany dalam  al-Ausath  dan memperbarui sahih oleh al-Albany.

Seorang bijak tidak pernah berujar, “Jangan bawa menjadi orang sukses. Tapi jadilah orang yang penuh untuk orang lain ”.

Inilah salah satu tujuan hidup manusia. Setiap orang harus memilik kepentingan masing-masing. Karena manusia terbaik adalah yang memberi Manfaat bagi sesamanya.

Ada paradoks di sini. Manusia menganggap kesuksesan dapat mendatangkan kebahagiaan. Tapi nyatanya ketika mereka menggapai satu titik, maka akan mengejar titik yang lain di atasnya dan tidak pernah puas. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menggambarkan,

“لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ“.

“Andaikan anak Adam memiliki dua lembah berisikan harta, niscaya dia ingin lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa mengisi perut anak Adam melainkan hanya tanah. Allah akan menerima taubat hamba yang bertaubat”. HR. Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas radhiyallahu’anhuma.

Kebahagiaan yang hakiki adalah ketika kita berbagi. Selain merasakan kebahagiaan ketika berbagi atau membantu orang lain, Allah akan menolong melalui jalan yang tidak kita duga sebelumnya.  Dalam sebuah hadits sahih diterangkan,

“وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ“.

“Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Ruang berbagi dengan orang lain amatlah luas. Yang paling tinggi adalah berbagi ilmu agama. Alias mengajarkannya, terutama kepada yang membutuhkannya. Misalnya mengajarkan al-Qur’an kepada putra-putri kita dan anak-anak TPQ.

Berikutnya Berbagi  harta . Lebih bagi mereka yang mendapatkan kelapangan rizki. Di antara ladang kebajikan yang tidak layak diabaikan: amal jariyah, seperti wakaf untuk sarana ibadah atau pendidikan agama.

Karena minimal ilmu dan harta, maka ia bisa  membagikan tenaganya  kepada orang lain. Dengan membantu meringankan bawaan belanja nenek-nenek, mendorong mobil yang mogok di tengah jalan, atau yang semisalnya.

Kata pendek, jadilah orang yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain, niscaya hidup Anda akan bahagia!

@Pantantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum'at, 5 Shafar 1436/28 Nopembe

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR