Rabu, 08 Feb 2023
  • Selamat Datang di Official Website PESANTREN NURUL IHSAN Cilacap Berakreditasi A - The Next Generations © 2020 - All Rights Reserved.

Ketika Nyali Dan Ilmu Berpadu

Mengingkari kemungkaran itu membutuhkan nyali dan keberanian. Sebab beresiko tinggi. Karena hanya sedikit orang yang meniti jalan tersebut. Dipilih di zona nyaman.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

“ما من نبى بعثه الله فى أمة قبلى إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره, ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما لا يفعلون ويفعلون ما لا يؤمرون, فمن جاهدهم بيده فهو مؤمن, ومن جاهدهم بلسانه فهو مؤمن, ومن جاهدهم بَقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ”

“Setiap nabi yang diutus oleh Allah kepada umat sebelumku pasti memiliki pendukung dan sahabat. Mereka berpegang dengan petunjuk Nabinya dan meminta perintahnya. Namun kemudian mereka muncul generasi yang mengeluarkan apa yang tidak mereka praktikkan dan mempraktekkan apa yang tidak disetujui. Barang siapa melawan, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa yang melawan mereka dengan lisannya, maka dialah orang yang beriman. Barang siapa melawan mereka, maka dialah orang yang beriman. Selain itu, tidak ada keimanan yang tersisa sedikitpun ”. SDM. Muslim dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Urgensi Ilmu

Namun, keberanian dan nyali saja tidak cukup. Amar ma’ruf-nahi munkar sangat membutuhkan ilmu.

Ilmu untuk membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar, mana yang baik dan mana yang buruk, juga mana yang benar dan mana yang salah Agar tidak terjerumus untuk kesalahan fatal.

Alih-alih beramar ma’ruf-nahi munkar, sebaliknya malah beramar munkar-nahi ma’ruf. Kemungkaran dibela dan didukung, sedangkan kebajikan malah diberangus dan diperangi.

Ilmu lain yang sangat dibutuhkan adalah ilmu untuk mempertimbangkan maslahat dan mafsadat, efek positif dan efek negatif, serta efek baik dan dampak buruk.

Betul, itulah amar ma’ruf dan nahi munkar yang memiliki masalah. Namun saat akan memulai ibadah yang agung ini, seorang Muslim harus memperkirakan tingkat kesulitan tersebut.

Apakah masih dalam batas yang bisa ditolerir syariat? Contohnya: sungguh diomong, dibenci, dikucilkan dan yang semisal. Atau diharapkan akan berakibat menghilangkan nyawa orang banyak, menentang huru-hara dan berbagai dampak dahsyat lainnya?

Jika membalikkan pengingkaran kemungkaran akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah, maka saat itu pengingkaran tersebut haram dilakukan.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita,

“Suatu hari seorang Arab Badui pernah ditempatkan Masjid Nabawi, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Maka para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi shallallahu alaihi wa sallam malah mengalihkan tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk mengambil udara, kemudian digunakan kencing itu pun disirami ”. SDM. Bukhari dan Muslim.

Ini menarik untuk kita cermati. Mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membatalkan para sahabatnya mengingkari perbuatan si Arab badui tadi? Apakah kencing di dalam masjid adalah sebuah kemungkaran?

Dia akanallallahu alaihi wa sallam mengeluarkan para sahabat untuk menghardik orang ini; karena akan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar.

Di melepaskan: bahaya bagi kesehatan si tantangan yang mendadak distop dari kencingnya. Lalu memilih auratnya tersingkap, karena kaget. Kalaupun dia tetap meminta kencing, akan menajisi celananya, atau bahkan bisa tercecer ke mana-mana di dalam area masjid.

Berarti akankah lebih banyak kemungkaran? Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang pengingkaran tersebut.

Mari padukan nyali dengan ilmu!

Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, Jum’at, 12 Ramadhan 1440 H / 17 Mei 2019

Abdullah Zaen

Post Terkait

PENGEN CEPAT MATI
28 Mei 2020

PENGEN CEPAT MATI

Tipu tipu
28 Mei 2020

Tipu tipu

0 Komentar

KELUAR